Selasa, 14 Januari 2014

12 Years a Slave di Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم

Libur Maulid Nabi Muhammad  صلى الله عليه وسلم  kemaren nonton DVD 12 Years a Slave sekadar penasaran karena film ini dapet banyak nominasi di ajang Golden Globe 2014 lalu.

Ngeri..

Menyentuh..


Memeberikan gambaran suram abad 18 tentang perbudakan.

Perbudakan = Kejahatan.
Persepsi itu yg sebelumnya saya punya. Cuma itu.
Tapi film 12 Years a Slave menghadirkan kesuraman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, begitu detail..

lewat dialog-dialog penuh makna,

lewat jerit tangis ibu dan anak yang dipisahkan,

lewat cipratan darah seorang budak saat dicambuk,

lewat keinginan untuk hidup.

Bukan sekadar bertahan hidup.




Seketika terbayang sahabat Rosul, Billal bin Robbah Sang Muadzin yg juga seorang budak,
dijemur di terik gurun, dicambuk, diperlakukan layaknya properti yg bebas diperlakukan semau orang yg membelinya..

Seketika juga teringat saat saya tonton film ini 
bertepatan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Seorang Rosul yang lahir di masa kejahiliyahan yang amat sangat,
dan salah satu program kerja yg beliau miliki adalah menghapus perbudakan dengan jargon:


                DERAJAT SEMUA MANUSIA SAMA. 


*bersholawat untuk Rosulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
 وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
 كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
 وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Kamis, 02 Januari 2014

Kisah Perjalanan ke Bromo, Pulau Sempu dan Batu Malang a la Backpacker: Permulaan

Keinginan tuk ke Bromo akhirnya bisa diwujudkan di penghujung 2013! Yeaayyy!!

*terima kasih atas nikmat kesempatan dan kesehatan yg KAU berikan (u_u)

foto diambil dari google

Sebulan sebelumnya izin cuti sudah dikabulkan, bonus akhir tahun siap dicairkan: perpaduan yang menyenangkan bukan? Hehehe..
Langkah pertama yg dilakukan adalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai cara menuju Bromo dan besar biaya minimum yang dibutuhkan. Googling dan blogwalking tentu saja J jadi tips utama menjawab rasa ingin tau tentang segala hal.


Persiapan Menuju Malang
                Berbekal info dari blog, tidak ada transportasi yang langsung menuju Bromo. Kecuali dapet pinjeman Pintu Ke Mana Saja milik Doraemon :D. Transportasi yang kami (saya dan Gun –soulmate&bestfriend pisan lah) pilih adalah kereta api Jakarta-Malang. Kelas ekonomi yg kami incar tuk menghemat budget. Hehehehe... Berhubung pemesanan tiket online sedang mengalami gangguan atau bisa jadi gadget saya yg kurang mumpuni, kami memilih untuk memesan langsung ke Stasiun Senen, tempat pemberangkatan kereta menuju Malang. Ini adalah pengalaman pertama kami masuk ke Stasiun Senen, Jakarta. Asli. Bingung!
                Kebingungan pertama adalah mengetahui  letak pintu masuk area stasiun. Setelah bolak-balik naek motor yg dijumpai  selalu pintu keluar stasiun akhirnya memberanikan diri bertanya (Soalnya agak parno nanya-nanya di Jakarta *nyengir). Kebingungan kedua, setelah meninggalkan area parkir yg semrawut, trus kita harus kemana? Masuk ke bilik tiket stasiun yang bejubel orang lumayan bikin fokus hilang bentaran. Hampir semua orang memegang semacam formulir dan menyiapkan KTP. *KTP penting dibawa untuk kelengkapan administrasi. Ah, dari pada semakin bingung dan jadi incaran orang-orang yg berniat jahat.. kami memutuskan untuk bertanya kepada Customer Service dengan alibi: pengalaman pertama :p

foto diambil dari google

Informasi yg kami dapatkan, tiket ekonomi Matramaja sudah habis sampai akhir tahun!! Peak Season libur anak sekolahan.  Sang CS menganjurkan kereta api Majapahit untuk tanggal keberangkatan yg kami inginkan dengan harga tiket Rp200rb. Majapahit kereta kelas ekonomi seperti halnya Matramaja. Subsidi Pemerintah yang membedakannya dan menjadikan tiket Majapahit menjadi lebih murah. Jauh lebih murah. Iyalah, Rp65ribu. Perbedaan lainnya, Matramaja berhenti di setiap stasiun yang dilaluinya sedangkan Majapahit hanya berhenti di stasiun-tertentu sehingga waktu tempuh Majapahit relatif lebih singkat dibandingkan Matramaja.

                DEAL!! Tiket dipesan. Kamis, 19 Desember 2013 jam 15.15 keberangkatan kami. Lega.. 



Sebenernya Sang CS sudah menginformasikan tiket Matramaja untuk pulang Malang-Jakarta masih tersedia di tanggal 23 Desember (rencana kepulangan kami) jika ingin sekalian pesan. Karena kami pikir “pasti kosong pulangnya mah”, saran tersebut tidak kami tindaklanjuti. Informasi terakhir yang kami dapatkan, pemesanan tiket selain online ke situs PT. KAI juga bisa di gerai Indomart/ alfamart atau telpon di 121 atau 021-121 maksimal 90 hari sebelum keberangkatan. Terganjal kesibukan, pemesanan tiket pulang by phone agak terlupakan. Alhasil, gagal lagi dapet tiket murah Matramaja. Lagi-lagi yg tersedia Majapahit tapi dengan harga yg lebih mahal dari pada tiket keberangkatan: Rp250rb mau gak mau diambil juga.. Anggaran membengkak!
Pelajaran berharga: Pesan tiket jauh-jauh hari. 

Setelah pemesanan tiket, pembayaran melalui ATM harus segera dilakukan agar tiket tidak hangus. Maksimal 3 jam setelah pemesanan. Bukti transfer itulah yang akan ditukarkan dengan tiket sesungguhnya di loket penukaran tiket online sambil menunjukkan KTP atau kartu Identitas yg didaftarkan saat pemesanan.

                Urusan tiket beres!

                Hal yang tidak kalah penting adalah persiapan pakaian dan atribut lainnya yang melindungi tubuh kita dari udara dingin Bromo yg konon kabarnya sampai ke tulang.
Karena jaket lumayan tebal sudah punya, saatnya berburu kupluk, kaos kaki, kaos tangan, sendal gunung (rencana dipake untuk ke Pulau Sempu) dan menyiapkan pakaian untuk 5 hari. Tas ransel kami penuh sesak dan... Berat :D


Hari Keberangkatan: Kereta Malam... Tukitakitukitakituk!! :D

                Setelah gak sabar nunggu 19 Desember 2013, akhirnya... kamis itu tiba. Sebenernya kamis itu masih hari kerja, tapi berbekal negosiasi yg diimbangi kebaikan hati atasan, Gun diizinkan kerja setengah hari. Kalo saya mah bolos pemirsa! Hahahaha.. Don’t try this at home, Ok?!
Singkat cerita, kami sudah di stasiun Senen sekitar jam 2 siang. Melewati pos penjagaan cek tiket yg disesuaikan dengan KTP pemilik tiket, kami memasuki peron. Majapahit datang-parkir-semua penumpang masuk mencari tempat duduk yg tertera di tiket. Itu bukan perkara mudah bagi kami yang belum terbiasa “membaca” tiket kereta api malam. Nomer kursi 12A dan 12B patokan kami. Padahal di setiap gerbong pasti punya 12A dan 12B. Salah masuk gerbong bisa digusur. Masih syukur digusur dengan halus pake bahasa pemakluman, kalo pake nyolot.. bisa ngerusak mood tuh!
Beruntung kami digusur oleh ibu muda dan anak gadisnya yg lemah lembut. Setelah minta maaf, kami bergegas mencari 12A dan 12B yg lain. *Maaf, Buuuu...
Kali ini kami duduk di tempat yang tepat. Setelah sempat ragu dan Gun meyakinkan dengan bertanya pada seorang porter (petugas kereta yg membawa barang bawaan penumpang), kami duduk tenang berharap gak ada lagi yg menggusur ;-)

Tips: Petunjuk membaca tiket kereta api
1.         Pastikan nomer identitas yg tercetak sesuai dengan identitas yg kita daftarkan
2.       Pastikan kereta yg kita masuki benar. Nama kereta dan tanggal keberangkatan. Nanti bakal dicek lagi oleh petugas sebelum masuk peron.
3.       Tempat kita duduk ada di No. KERETA.
Contoh gambar: No. KERETA: EKO-1/12B
Artinya Kereta Ekonomi gerbong 1 alias gerbong pertama no.kursi 12B.


perhatikan No. KERETA yaa...

Ternyata banyak juga peristiwa gusur menggusur yg kami lihat di kereta ini dan mengakibatkan sedikit kehebohan. Berhubung atmosfernya liburan, jadi semua orang terlihat santai dan bahagia. Gak ada nyolot-nyolotan. *happy!
                Tepat 15.15 kereta berangkat. Tukitakitukitakituk.. hatiku gembira (tetiba lagu Kereta Malam versi Soimah mengalun imajiner). Untung bukan penggalan syair milik Iwan fals “biasanya kereta terlambat dua jam cerita lama. Busyet!!”  yg mengalun. Tepat waktu! Catatan positif pertama saya terhadap PT. KAI.     Kesan positif itu berganti sedikit kecewa karena tidak ada colokan listrik! Padahal batre HP mulai low. Pun dengan Power Bank. Alhasil akses data dimatikan dan tak ada kesempatan denger musik nutupin kuping dengan headset upaya tuk menghemat batre..
Bersyukur teman duduk di hadapan kami asyik banget diajak ngobrol. Kakak beradik “the sisters” yg tidak terlihat mirip ini berdarah minang yg lahir dan besar di Jakarta, bersama rombongan mempunyai tujuan yang sama dengan kami: Bromo! Novie dan Upie panggilan mereka. Ngobrol ngalor-ngidul, terutama tentang tempat-tempat Indonesia yg sudah dan ingin dijelajahi. Ah, gak ada yg lebih menyenangkan bertemu kawan baru yg memiliki semangat ngebolang yg sama!
Keseruan obrolan kami mulai berkurang setelah makan malam yg dipesan dari petugas kereta. Gun dan mbak Novie memesan Rawon, saya pesan nasi goreng, mbak Upie sudah gak sabar mencicipi bakso Malang. Kesimpulan kami -yg mendadak jadi ahli kuliner- menyatakan rawon yg paling nikmat. Nasi gorengnya begitulah. Mbak Upie mengeluhkan tingkat kehangatan yg kurang dari baksonya dan bertekad berburu bakso sesampainya di Malang. Hehehe.. Perut kenyang, tak ada lagi yg bisa dilihat di balik jendela, masing-masing kami bersahabat dengan keadaan dan menikmati jam tidur berbekal bantal kereta yg kami sewa Rp.5rb. Entah kenapa harga sewa bantal menjadi Rp.7rb saat pulang menuju Jakarta. Sekadar informasi tambahan, kondisi toilet di Majapahit lumayan bersih dan air yang selalu tersedia. Jadi sekadar untuk buang air dan wudhu sangat kondusif.
Setelah menempuh sekitar 17 jam majapahit tiba di Stasiun terakhir di Malang.
Jum’at, 20 Desember 2013 sekira jam 8 pagi kami berpisah dengan mbak Novie dan mbak Upie. Mereka dan rombongan akan langsung ke Bromo, sedangkan kami bermaksud menuju Pulau Sempu terlebih dahulu. Terima kasih mbak-mbak atas perjalanan yang menyenangkan!!

*bersambung...